Daerah

Majelis Taklim Az-Zikra Sumbar Selenggarakan Zikir, Doa dan Muhasabah Ditengah Bencana

Balai Gurah, PortalJurnalis.com

Ditengah berbagai persoalan yang dihadapi bangsa termasuk yang melanda Sumatera Barat dimana banjir bandang menerjang di malam buta tanpa kompromi, berbagai harta benda bahkan nyawa melayang, majelis taklim Az-Zikra Sumatera Barat menggelar dzikir dan doa serta muhasabah di Masjid Darussalam yang berlokasi di Jorong Koto Tuo Nagari Balai Gurah Kecamatan Ampek Angkek kabupaten Agam pada Minggu (12/05/ 2024).

Dalam Takbir Akbar yang digelar bertemakan dzikir, doa, dan muhasabah yang dipandu sekretaris umum Az-Zikra Sumbar,ustadz Rony Edrianto Malin Mudo yang dihadiri sejumlah besar pengurus dan anggota Majelis Taklim Az-Zikra Sumbar, Pengurus Mesjid, warga setempat serta sejumlah simpatisan tersebut larut dalam suasana khusyuk, mesti diselimuti rasa sedih dan duka mendalam karena tragedi banjir bandang.

Ketua Umum Az -Zikra Sumbar, Syaikh Muda Hengky Al- Fatir Ilallah dan Syaikh Zulyadi Lubis Al- Mandili sangat dikenal Hadir memberikan siraman rohani dalam Takbir Akbar tersebut dan didampingi pengurus lainnya dengan mengkaji hakekat Haji dan Kurban.

Ibadah haji maknanya amat dalam dan luas, bukan hanya perjalanan fisik ke Mekkah. Ibadah haji adalah perjalanan spiritual menuju Allah SWT, yang melibatkan perjuangan dan pengorbanan. makna haji tidak hanya terbatas pada ritual-ritual yang dilakukan, sekaligus pengalaman-pengalaman spiritual yang dialami oleh setiap pelaku haji.

Pengalaman haji dapat menghapus perbedaan dan mempererat tali silaturahmi antar sesama Muslim, sehingga tercipta persatuan dan kesatuan .

Baca Juga  29 Tahun Lubuk Basung Jadi Ibu Kota Agam, Bupati : Tingkatkan Persatuan Kesatuan Bangun Daerah

Selain itu ibadah haji memiliki makna sebagai penghujung tahun, yang menandai akhir dari bulan-bulan yang ditetapkan Allah SWT untuk ibadah haji. Dalam makna ini, Haji menjadi simbol kesucian dan kesempurnaan.

Hakekat Haji juga terkait dengan sejarah Nabi Ibrahim dan ajarannya. Nabi Ibrahim AS membangun Ka’bah, yang menjadi kiblat peribadatan umat Islam. Dalam konteks ini, Haji menjadi perjalanan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai lainnya.

Haji sendiri memilih tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah seperti pakaian ihram memiliki nilai-nilai kemanusiaan bagi siapa saja yang melambangkan pola, preferensi, status dan perbedaan-perbedaan tertentu.

Dengan mengenakan pakaian yang sama, semua Haji harus memahami bahwa perbedaan harus ditanggalkan, sehingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan dimata Allah .

Sehingga haji menjadi perjalanan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai ibadah lainnya. berdasarkan” (QS Al-Qamar: 49).

Haji dan Qurban tidak hanya berupa perbuatan ritual, tetapi juga memiliki makna yang lebih dalam karena mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Perjalanan ini melibatkan berbagai ritual, termasuk wukuf di ‘Arafah, yang berfungsi sebagai simbol kesempurnaan dan kesadaran akan kehadiran Allah SWT.

Sebaliknya, Al-Qur’an memandang Haji sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui perjalanan yang panjang dan berisi berbagai ritual. Kurban, yang berarti “dekat”, berupa penyembelihan hewan untuk kemudian dibagi-bagikan kepada orang lain.

Baca Juga  Alami Rem Blong, Truck Pembawa Pakan Ayam Terbalik di Jalan Lintas Padang Laweh

Sekaligus penghilangan sifat-sifat kebinatangan yang ada pada manusia, seperti sifat rakus, tamak, serakah, dan mau menang sendiri serta sifat tercela lainnya.

Dengan berkurban, diharapkan semua manusia dapat membuang sifat-sifat kebinatangan yang dapat mendatangkan musibah dan bencana itu.

Haji dan Kurban memiliki keterkaitan karena berfungsi sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam kehidupan manusia.

Haji dan Kurban sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran akan kehadiran Allah SWT dan meningkatkan kesadaran akan kepentingan beribadah.

Haji dan Kurban, sebagai dua ibadah yang sangat penting dalam Islam, memiliki tujuan yang lebih luas daripada hanya sekadar beribadah.

Berfungsi untuk menghilangkan sifat kebinatangan dari diri manusia. sifat kebinatangan merujuk pada sifat-sifat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti riya, ujub, dan syirik.

Daging dan darah hewan Kurban tidak akan sampai kepada-Nya, tetapi yang sampai adalah ketakwaan manusia.

Hal ini menunjukkan bahwa Kurban bukan hanya sekadar mempersembahkan hewan, tapi juga sebagai wujud penghambaan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Ibadah Kurban juga memiliki hikmah lain, seperti dapat menjauhkan diri dari sifat-sifat kebinatangan. Ketika seseorang menyembelih hewan Kurban, melihat darah yang mengalir dapat menggambarkan terkikis dan terbuangnya sifat kebinatangan, sehingga yang muncul adalah rasa kemanusiaan.

Dengan demikian, Haji dan Kurban tidak hanya berfungsi sebagai ibadah, tapi juga sebagai cara untuk menghilangkan sifat kebinatangan dari diri manusia, sehingga mereka dapat menjadi lebih dekat dengan Allah SWT dan lebih beriman.

Baca Juga  Polres Bukittinggi Salurkan Bantuan Untuk Korban Kebakaran di Koto Gadang

pengurus Mesjid memberikan apresiasi luar biasa kegiatan zikir, doa dan muhasabah bisa memperkuat persatuan dengan harapan bisa membangun dan mempertahankan nilai silaturahmi sehingga bisa saling tolong menolong terutama yang dialami korban bencana saat ini.

Usai kegiatan dilanjutkan dengan doa berbagi jemaah terutama bagi saudara muslim yang ditimpa bencana dan ibadah shalat Zuhur serta santap makan siang penuh aroma silaturahmi yang tinggi

(TIM PJ)